A. STRATEGI
AMERIKA MENGUASAI EKONOMI DUNIA
Untuk mewujudkan strategi ekonominya
ini, AS berupaya memperlemah dan memperlambat gerak pasar bersama Eropa dengan
membentuk blok-blok perdagangan baru, menghidupkan kesepakatan-kesepakatan
lama dan mengaktifkannya kembali, mendirikan NAFTA beranggota Kanada, AS, dan
Meksiko serta, membentuk APEC. Pada bulan Nopember 1992, atas seruan Presiden
Clinton, telah diadakan pertemuan puncak untuk membentuk organisasi kerjasama
ekonomi bagi negara-negara Asia Pasifik itu (APEC).
AS melakukan itu untuk mengacaukan
stabilitas Eropa, sebab sudah menjadi aksioma politik yang tak bisa dibantah
lagi, bahwa suatu orientasi ekonomi tak akan dapat berjalan stabil kecuali bila
didukung oleh stabilitas politik yang mantap pula. AS mempunyai beberapa alasan
untuk itu; AS melihat bahwa Uni Eropa merupakan saingan kuat untuk menantang
dan menyaingi AS di bidang ekonomi. Alasan-alasan AS itu adalah :
1. Kesatuan
Eropa secara politik dan ekonomi hampir terwujud.
2. Eropa
memiliki kemampuan bersaing di bidang perdagangan, sebab Eropa mempunyai
kemampuan tinggi dalam produksi barang dan jasa.
3. Setelah
berakhirnya perang dingin dan hancurnya Uni Soviet, lenyaplah momok komunisme
yang sebelumnya digunakan AS untuk mengancam Eropa. Eropa seluruhnya lalu
berkonsentrasi dan bersiap-siap dengan serius untuk terjun ke dalam kancah
ekonomi internasional. Di antara persiapan Eropa nampak dari fakta bahwa
seluruh Eropa yang merupakan negara-negara industri yang produktif telah
menghilangkan hambatan bea masuk di antara mereka, membuka tapal batas negara
masing-masing untuk memudahkan perpindahan tenaga kerja, dan berusaha
mewujudkan kesatuan mata uang.
Negara-negara anggota APEC tersebut
menguasai 40% dari keseluruhan volume perdagangan dunia, sekaligus merupakan
pasar yang jumlah konsumennya mencapai lebih dari 1 milyar jiwa. GATT
sebelumnya telah melakukan pembahasan khusus seputar hal ini.
Dari seluruh penjelasan tersebut,
nampak bahwa AS telah berhasil mencapai target-targetnya untuk merealisasikan
prinsip-prinsip yang menjadi landasan ekonominya. AS nampak terus mengembangkan
dan membangunnya hingga stabil dan mantap, bahkan menjadikan prinsip-prinsipnya
itu sebagai realitas global yang tak bisa dihindari lagi.
Sesungguhnya, dalam ide-ide
kapitalisme itu sendiri terdapat unsur-unsur yang saling memusnahkan satu sama
lain. Benih kehancurannya pun secara inheren terdapat dalam asas dan landasan
peradabannya. Hal itu karena telah menjadikan imperialisme sebagai thariqah
(metode) penyebaran peradaban Barat ini. Sedang cara-cara untuk mewujudkan
tujuan-tujuan adalah saling bersaing, saling mendominasi, dan saling menguasai.
Di samping itu, mereka pun
senantiasa menilai perbuatan manusia dengan tolok ukur manfaat, yang mereka
anggap sebagai tolok ukur hakiki. Atas dasar tolok ukur ini, penganut peradaban
ini harus terus menjadi penindas bagi pihak lain serta harus saling mendominasi
dan bersaing satu sama lain. Pada gilirannya, kapitalisme ini suatu saat nantinya
juga akan runtuh dari dalam secara tragis, sebagaimana sosialisme sebelumnya
juga telah runtuh dengan cara yang seperti itu.
Pemusnahan dan pencerabutan
pandangan hidup Barat itu harus dilakukan dengan menerapkan pandangan hidup
Islam secara nyata, dengan menjadikan Aqidah Islamiyah –termasuk seluruh
hukum-hukum yang terpancar darinya dan ide-ide yang dibangun di atasnya–
sebagai metode pemecahan terhadap seluruh problem manusia dan pengatur segala
urusan mereka.
Secara
lebih rinci, pemecahan problem tersebut harus meliputi pula hal-hal berikut:
1. Kembali
kepada sistem mata uang emas secara internasional.
2. Memberikan
batasan-batasan terhadap kebebasan ekonomi dan kebebasan pemilikan, serta
menjelaskan kekejaman dan keharaman penipuan, penimbunan, dan riba.
3. Menjelaskan
bahaya kelompok-kelompok internasional, baik yang berbentuk pakta-pakta militer
maupun yang berbentuk blok-blok perdagangan.
4. Mengundurkan
diri dari PBB dan seluruh organisasi-organisasinya, serta menjelaskan bahwa
PBB adalah alat AS untuk memaksakan legalitas adanya dominasi yang kuat atas
yang lemah, dan penindasan yang kaya atas yang miskin.
B. STRATEGI
CHINA MENGUASAI EKONOMI DUNIA
Terjun ke dunia usaha memang
memiliki semangat tersendiri. Anda bisa saja berpikir bahwa usaha merupakan hal
mudah yang bisa Anda jalankan. Ya, berinvestasi pada sektor riil seperti usaha
memanglah tidak mudah. Namun, jika dijalankan dengan baik maka investasi ini
akan memberikan keuntungan yang berlipat. OIeh sebab itu, jika Anda berpikir
tentang investasi mudah, Anda justru akan menjauhi bisnis dan lebih memilih
investasi mudah dan aman seperti menabung atau membeli tanah.
a.
Alasan
mengapa China mahir berdagang
1. Belajar
berbisnis sejak kecil
Jika Anda perhatikan ketika memasuki
toko orang Cina, maka Anda bisa melihat ada beberapa anggota keluarga yang
terlibat disana termasuk anak-anak kecil. Hal ini dilakukan agar anak-anak bisa
mulai terbiasa dengan dunia bisnis sehingga jiwa wirausaha akan terbentuk sejak
kecil. Selain itu, cara ini juga bermaksud agar anak-anak lebih bisa menghargai
uang serta lebih bijak dalam mengelola atau menggunakannya.
2. Bijak
Mengelola Uang
Banyak yang beranggapan bahwa orang
Cina itu terkenal pelit atau sulit mengeluarkan uang bahkan hanya untuk
kepentingan dirinya sendiri. Ini dikarenakan mereka selalu menegaskan akan
pentingnya hidup sederhana dan hemat. Mereka akan memenuhi kebutuhan pokok dan
dengan mudah meninggalkan kepentingan lain hanya untuk gengsi atau gaya hidup.
Anda bisa memulai dengan menyisihkan uang sebesar 10-20% secara rutin dari
total penghasilan.
3. Berpikir
Jauh Untuk Masa Depannya
Orang Cina paling takut dengan
ketidakpastian di masa depan. Oleh sebab itu, mereka akan selalu
mempersiapkannya sedini mungkin. Mereka akan terus berusaha untuk membuat masa
depannya lebih baik. Kerja keras, berpikir jauh kedepan, konsisten dan terus
pada track yang sudah direncanakan tentunya akan memberikan hasil yang
menggembirakan.
4. Perputaran
uang lebih penting dari untung yang besar
Salah satu yang paling terkenal dari
pebisnis Cina adalah harga yang ditawarkan lebih murah. Tentu, Anda akan
bertanya, akan dapat untung dari mana jika harganya murah. Inilah bedanya.
Orang Cina tidak akan mementingkan untung yang besar yang berakibat pada
tingginya harga yang dipatok dan lemahnya dalam persaingan. Mereka akan lebih
memilih memutarkan terus uang mereka walau keuntungan yang didapat kecil.
Ketika uang terus berputar, maka sedikit demi sedikit kerajaan bisnis akan
terbentuk.
5. Tidak
berhutang
Orang Cina beranggapan bahwa hutang
itu adalah aib. Mereka akan selalu sebisa mungkin menghindari hutang dengan
terus bekerja keras walau harus bersusah payah. Mereka akan meminjam hutang
ketika keadaan sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dana segar akan mereka ambil
ketika mereka sudah menjalankan semua hal yang bisa dilakukan tapi keadaan
belum juga berubah.
6. Negosiasi
untuk dapatkan harga terbaik
Negosiasi atau tawar menawar adalah
hal penting untuk dilakukan dalam dunia bisnis. Orang Cina akan melakukan
penawaran untuk mendapatkan harga terbaik karena mereka tahu harga yang akan
dijual kembali juga murah. Selain itu, harga terbaik tentunya akan memberikan
keuntungan tanpa harus menaikkan harga terlalu tinggi sesuai dengan point
sebelumnya bahwa mereka lebih mementingkan perputaran uang.
7. Berikan
yang terbaik untuk orang tua dan guru
Seakan tidak ada hubungannya dengan
poin-poin sebelumnya. Namun, untuk menjadi kaya, maka dibutuhkan mental yang
siap kaya. Mental ini harus dibangun dengan cara memuliakan orang tua serta
guru. Oleh sebab itu, orang Cina juga akan selalu menghormati orang tua dan
gurunya walau mereka sudah sukses. Karena kesuksesan bukan dilihat dari jumlah
uang tapi juga kedamaian dan ketenangan hati dan pikiran.
b.
Tindakan
strategis yang diterapkan
Salah satu tujuan ekspor, pada
awalnya, adalah untuk menyediakan
cadangan valuta asing yang diperlukan untuk mengimpor mesin dan tehnologi dalam
rangka memodernisir perekonomiannya, di samping untuk membiayai bahan bakar
atau bahan mentah lainnya. Komponen impor umumnya didominasi oleh peralatan dan
mesin-mesin, tetapi pada tahun-tahun belakangan ini, permesinan yang diimpor
mengandung tehnologi yang lebih tinggi.
Dewasa ini, produk yang dijual Cina
pada dasarnya adalah produk konsumen, seperti sepatu, mainan anak-anak,
pakaian, CVD player,komputer desktop, telepon genggam, televisi, stereo mobil,
dan lain sebagainya. Walaupun barang-barang ekspor menunjukkan kandungan
tehnologi yang lebih tinggi, seperti komputer dan lainnya, namun masih dalam
kategori produk konsumen. Cina sudah mulai memproduksi mobil, seperti Geely,
tetapi masih dalam tahap penetrasi pasar awal. Namun, secara umum, dapat
disimpulkan barang-barang yang diekspor telah bergerak dari barang-barang yang
mengandung sumber daya dan tenaga kerja yang intensif, bernilai tambah rendah,
dan bertehnologi rendah, ke arah barang-barang yang mengandung tehnologi dan
bernilai tambah yang lebih tinggi.
Pasar yang dituju pada mulanya
adalah pasar terbawah pasar global, kemudian bergerak ke negara maju. Kemudian,
pasar yang diprioritaskan adalah Afrika, Timur Tengah, Asia, dan penekannya
pada Amerika mulai berkurang. Pendekatan seperti ini juga menguntungkan negara
lain dan masyarakatnya sebagai mitra dagang Cina. Mereka dapat memperoleh
barang yang murah dan berkualitas, karena mereka tidak dapat memproduksinya
dengan hasil dan harga seperti itu. Jalur distribusi di negara mitra juga
diuntungkan dengan kemungkinan perolehan keuntungan yang lebih baik. Amerika,
contohnya, akan kehilangan barang-barang konsumen yang diperlukan oleh
masyarakatnya, jika pemerintahannya melarang masuknya barang Cina.
Barang-barang seperti itu tidak lagi dapat diproduksi di Amerika, karena biaya
buruh yang lebih tinggi, dengan etos kerja yang telah melemah, dan jam kerja
yang dibatasi pula oleh buruh Amerika itu sendiri.
Strategi
menjual dengan harga murah tetapi barang yang berkualitas menggambarkan
kekuatan tenaga kerja Cina yang berjumlah besar, tetapi dengan keahlian dan produktivitas
yang tinggi. Karena faktor ini bersifat endogen dalam masyarakat Cina, yang
telah bersifat turun menurun, maka sulit bagi masyarakat non Cina untuk
menandinginya.
Unsur
pokok dalam strategi bisnis china yaitu:
1. Kemampuan
memproduksi barang -barang dengan harga yang murah dan berkualitas adalah unsur
stategis utama yang dimiliki dan digunakan Cina dalam berdagang di pasar
domestik dan internasional. Unsur ini bersifat inheren, atau telah berakar pada
budaya Cina, dan telah dianut selama ribuan tahun, serta masih diterapkan
sampai sekarang. Daya tarik ini terletak pada kualitas tenaga kerja yang
produktif, dan kepastian hukum yang baik, yang terlihat dari rule of law yang
diterapkan oleh permerintah Cina.
2. Reciprocal
strategy, atau strategi timbal balik, juga dilakukan. Cina menanamkan modalnya
di negara seperti Afrika, Brasil, Venezuela, dengan harapan secara timbal balik
dapat memastikan pasokan bahan baku, terutama bahan bakar minyak yang
diperlukan di dalam negeri. Hal yang sama juga tampak dari tindakan Cina
memberikan pembiayaan kepada Amerika; dan timbal baliknya adalah bahwa Amerika
tetap membuka pasarnya untuk barang-barang Cina.
3. Cina
juga mempertimbangkan kekuatan politik jangka panjang suatu negara, terhadap
kelangsungan hubungan dagang dengan Cina. Strategi ini dilandasi dengan prinsip
damai yang menghargai kedaulatan negara mitra dagang. Stategi ini digunakan
dalam rangka menjamin tidak saja pasar yang terbuka bagi produk Cina di
negara-negara tersebut, tetapi juga untuk mengamankan pasokan sumber bahan baku
dan bahan bakar minyak yang diperlukan.
4. Cina
menjual barang-barang yang laku di pasar internasional, dan di negara yang
tidak dapat memproduksi barang yang sama dengan harga yang lebih murah. Pada
awalnya kebanyakan barang yang dipasarkan itu merupakan barang konsumen dengan
mengandung tehnologi dan bernilai tambah rendah; namun, dalam hal yang terakhir
ini telah bergerak pada barang dengan kandungan tehnologi dan bernilai tambah
yang lebih tinggi. Hal ini merupakan suatu langkah untuk untuk menyesuaikan
dengan permintaan pasar yang berlaku pada waktu tertentu.
No comments:
Post a Comment